Senin, 11 Maret 2019

Dapatkah Model Bermain Untuk Meningkatkan Situasion Awareness Dalam Mengantisipasi Kekerasan Seksual Terhadap Anak Di Provinsi Jawa Tengah ?


Tingginya angka kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi di Jawa Tengah yaitu pada tahun 2012 sebanyak 771 kasus, tahun 2013 sebanyak 1260 kasus, dan tahun 2014 sebanyak 805 kasus. Data tersebut belum termasuk kasus tak terlaporkan atau telah terjadi kesepakatan damai antara pelaku dan keluarga korban (BP3AKB, 2015).
Data kekerasan seksual terhadap anak bila ditelaah secara lebih rinci yaitu ditinjau dari usia korban adalah :
Thn
2012
2013
2014
Usia
0-5
 6 -  2
13 - 18
0-5
 6 - 12
  13 - 18
0-5
  6 - 12
13 - 18

L
P
L
P
L
P
L
P
L
P
L
P
L
P
L
P
L
P
Jml
16
52
21
87
69
406
13
42
28
69
72
358
17
102
87
173
42
603

Tabel 1 : Data Korban Kekerasan Seksual Terhadap Anak
Tahun 2012-2014
Anak sangat rentan terhadap terjadinya kekerasan seksual. Kerentanan ini terjadi karena anak tidak dapat membela diri atau mengantisipasi situasi yang dapat mengarah pada kekerasan seksual dan dengan adanya budaya di Indonesia yang menuntut anak ramah, patuh dan hormat pada orang yang dituakan.
Dirasakan sangat penting adanya upaya pencegahan yang dapat melindungi anak dari perlakuan yang mengarah pada kekerasan seksual, menurut Lyness (dalam Maslihah, 2013) meliputi tindakan menyentuh atau mencium organ seksual anak, tindakan seksual atau pemerkosaan terhadap anak, memperlihatkan media/benda porno, menunjukkan alat kelamin pada anak dan sebagainya. Pencegahan merupakan cara yang paling efektif dalam mengatasi kekerasan seksual (Guterman, 2001).
Upaya pencegahan ini perlu disesuaikan dengan dunia anak yaitu bermain. Bermain merupakan wadah bagi anak dalam mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya, mengajarkan pada anak bagaimana mengidentifikasi situasi yang membahayakan dan mengarah pada kekerasan seksual (Maslihah, 2013; Finkelhor, 2009; Wakensaw dalam Chalidah, 2015). Melalui bermain anak mempelajari dunia, dirinya sendiri dan orang di sekitarnya (Homeyers dan Morrison, 2008) sesuai dengan perkembangan anak.
Kemampuan dalam mengidentifikasi situasi yang ada di lingkungan dinamakan sebagai situation awareness (Sarter dan Woods,1991), menjadikan seseorang waspada terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya dan di saat yang sama dapat memadukan kewaspadaannya terhadap apa yang dilakukannya (Haines dan Flateau,1992). Dengan harapan pengembangan kemampuan situation awareness (SA) membuat anak mengenali situasi yang dapat mengarah pada terhadap kekerasan seksual dalam bentuk permainan, dengan cara yang sesuai dengan perkembangannya.
Terapi bermain banyak digunakan dalam mengatasi trauma bagi korban kekerasan seksual (Jongsma, Peterson, Mclnnis, 2000), namun belum dilaporkan inovasi penggunaannya dalam mengedukasi anak agar mampu mengantisipasi situasi yang mengarah kekerasan seksual melalui pengembangan model bermain yang sesuai perkembangan anak.
1.    Model Bermain
a.    Definisi Model Bermain
1)    Definisi model
Model merupakan suatu perwakilan dari suatu gambaran atau komunitas atau sistem dan memiliki (Kuhne, 2005). Menurut Steinmuller (dalam Kuhne, 2005) model merupakan informasi mengenai makna atau isi yang diberikan oleh pengirim bagi penerima untuk digunakan. Sedangkan Monks dan Masen (Putra, 2013) mendefinisikan model sebagai acuan dari suatu proses.
Definisi model berdasarkan pendapat tersebut di atas adalah acuan dari suatu proses yang berisikan informasi bermakna.

2)    Definisi bermain
Bermain adalah suatu kondisi terasa lapang, mengembangkan pengalaman manusia, kaya dan beragam di sepanjang waktu dan tempat (Eberle, 2014). Homeyer dan Morrison (1988) menambahkan bermain adalah dunia alami anak, oleh karenanya bermain sangat dibutuhkan bagi perkembangan anak.
Berdasarkan pendapat di atas definisi bermain dapat disimpulkan sebagai dunia alami anak yang menyenangkan, mengembangkan, memperkaya, pengalaman  sepanjang waktu maupun tempat.
Berdasarkan pendapat dari para ahli maka disimpulkan bahwa model bermain adalah suatu gambaran tentang aktivitas anak yang sesuai dengan dunia alami anak yang menyenangkan, memperkaya pengalaman.

b.    Manfaat Bermain
Bermain memberikan manfaat sebagai berikut memberikan ruang bagi aktivitas fisik, memberikan kesempatan bagi otak bergerak dari kondisi memori non verbal ke frontal lobe yaitu bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan (Homeyer dan Morrison, 2008).
Bermain memberikan manfaat sebagai alat komunikasi  yang sesuai dengan perkembangan anak (Schaefer dalam Homeyer dan Morrison, 2008), juga memberikan peluang bagi anak untuk bergabung dalam suasana yang tidak menegangkan. Manfaat  lain dari bermain adalah melepaskan stress (Raman dan Singhal, 2015)
Dengan demikian manfaat dari bermain disimpulkan sebagai alat komunikasi dan ruang  fisik yang memberi peluang bagi anak untuk bergabung dalam suasana yang rileks dan melepaskan  ketegangan.

c.     Tahapan Perkembangan Bermain
Terdapat beberapa tahapan bermain dari berbagai ahli diantaranya adalah menurut Uduchukwu (2011) bermain terbagi menjadi dua katagori yaitu bermain aktif atau active play dan amusement, dari ketua katagori bermain ini kemudian dibagi lagi kedalam beberapa tahapan bermain.
Sebagaimana Mildred Patren (Gray, 2011) membagi tahapan bermain kedalam enam bentuk interaksi antar anak yaitu :
a.    Unoccopied Play yaitu anak hanya memperhatikan atau mengamati anak lain yang sedang bermain di sekitarnya.
b.    Solitary Play, pada tahap ini anak bermain sendiri tanpa melibatkan atau memperhatikan kehadiran anak lain di sekitarnya.
c.     Onlooker Play, pada tahap ini anak telah menunjukkan minat yang besar terhadap kegiatan bermain anak lain.
d.    Pararel Play, pada tahap ini seringkali terlihat dua atau lebih anak melakukan kegiatan yang sama persih namun bila diperhatikan lebih seksama tidak ada interaksi diantara mereka.
e.    Assosiative Play, pada tahapan ini terlihat adanya interaksi diantara anak yang bermain namun belum menunjukkan adanya kerja sama.
f.      Cooperative Play, tahapan ini merupakan tahapan paling tinggi yaitu telah terlihat adanya kerjasama dan pembagian peran di antara anak yang terlibat permainan dan permainan tersebut berupaya mencapai tujuan tertentu.
Tahapan bermain yang diajukan oleh Hurlock (Uduchukwu, 2011) terbagi atas :
1)      Free Spontaneous Play, pada tahapan ini anak bermain apa, kapan dan dimanapun.
2)    Dramatic Play / Discussing, tahapan ini memberikan sumbangsih terhadap perkembangan interpersonal dan intrapersonal.
3)    Constructive Play, anak melakukan permainan menggunakan bahan-bahan tertentu tanpa suatu tujuan manfaat tertentu melainkan hanya untuk kesenangan.
4)    Music, musik bisa bermakna bermain musik aktif maupun pasif tergantung bagaimana menggunakannya, anak  bisa menyanyi, main musi, menari yang penting anak merasa senang.
5)    Collecting, pada tahap ini anak-anak senang mengumpulkan benda – benda dan memainkannya sebagai peralatan main peran.
6)    Games and Sports, tahap ini bermain lebih pada pengembangan sosial dan fisik serta memperkuat otot.
Dengan demikian disimpulkan bahwa bermain terdiri dari dua katagori yaitu bermain aktif dan hiburan yang terbagi atas beberapa tahapan yaitu tahap bermain spontan, tahap penonton, tahap main peran, tahap bermain konstruktif dan tahap bermain bekerja sama.

2.    Situasion Awareness (SA)
a.    Definisi Situation Awareness (SA)
Situasion awareness (SA) sebagai persepsi terhadap elemen yang ada di lingkungan dalam suatu ruang, memahaminya dan memproyeksikannya dalam waktu dekat (Endsley,1995; Overgard, dkk. 2014).
Dalrymple dan Schiflett (1997) mendefinisikan situation awareness (SA) bagaimana seseorang berespon secara tepat terhadap isyarat-isyarat informasi penting yang ada di sekitarnya.
Sedangkan definisi yang diutarakan oleh Haines dan Flateau (1992) Situation Awareness (SA) ialah kemampuan seseorang untuk tetap waspada terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam satu kurun waktu dan menerapkan perasaan waspada tersebut ke dalam apa yang sedang dilakukannya saat itu.
Hartman dan Secrist (1991) menambahkan Situation Awareness (SA) pada dasarnya suatu hal yang bersifat kognitif walaupun tidak eksklusif dan diperkaya oleh pengalaman.
Berdasarkan berbagai definisi dari berbagai pendapat tersebut, disimpulkan bahwa Situation Awareness (SA) adalah kemampuan kognitif dan kekayaan pengalaman seseorang untuk dapat bersikap waspada pada suatu situasi dan menerapkan perasaan waspada tersebut kedalam apa yang sedang dilakukannya.

b.    Komponen Situation Awareness (SA)
Komponen Situation Awareness atau SA menurut Dalrymple dan Schiflett (1997) terdiri dari empat kunci penting yaitu manusia, isyarat-isyarat informasi penting, isyarat perilaku dan ketepatan respon. Dimana isyarat-isyarat informasi penting merujuk pada stimulasi lingkungan yang diolah melalui proses mental. Sedangkan respon yang tepat memiliki makna perbandingan antara respon dengan respon-respon yang diharapkan atau bila dibandingkan dengan sejumlah respon yang mungkin diharapkan muncul (Emerson dkk, 1987).
Dengan demikian komponen dalam Situation Awareness (SA) dapat disimpulkan terdiri dari manusia, isyarat informasi penting, isyarat perilaku dan ketepatan respon.

c.     Faktor-faktor Mempengaruhi Situation Awareness (SA)
Faktor-faktor yang mempengaruhi situation awareness (SA) antara lain adalah lingkungan (Endsley, 2001), perbedaan individual (Roberts dkk, 2015; van Winsen dkk, 2015) dalam membuat strategi untuk memanipulasi lingkungan dalam mengatasi tantangan. Sedangkan Harwood dkk (1988) menyatakan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap situation awareness (SA) dapat dinyatakan sebagai empat kata tanya yaitu apa, dimana, siapa dan kapan. Apa menunjukkan kewaspadaan yang berkaitan identitas, dimana mengacu pada kewaspadaan terhadap tempat atau spasial, siapa merujuk orang yang bertanggung jawab atau otomatisasi dan kapan merujuk pada kewaspadaan terkait dengan waktu atau temporal.
Berdasarkan pendapat di atas maka disimpulkan faktor yang memperngaruhi situation awareness (SA) antara lain yaitu manusia, waktu, tempat dan rangsangan lingkungan.

d.    Unsur Situation Awareness (SA)
Situation Awareness (SA) terbagi dalam tiga unsur perception, comprehention dan projection (Endsley, 1995, Overgard, 2014). Perception merujuk pada tanggapan atau wawasan, dinamika, dan elemen dari lingkungan dan comprehention merujuk pada penggabungan / integrasi dan interpretasi informasi yang digunakan untuk memahami apa yang terjadi dalam suatu situasi, sedangkan projection  : mencakup estimasi dari seseorang mengenai apa yang terjadi di masa yang akan datang.
Berdasarkan pendapat di atas disimpulkan bahwa terdapat tiga unsur dalam Situation Awareness (SA) yaitu persepsi yang merupakan wawasan yang dimiliki seseorang terhadap perubahan dan bagian-bagian dari lingkungan, komprehensi yang nerujuk pada penggabungan atau interpretasi dari informasi yang dimiliki seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, dan proyeksi mencakup pertimbangan seseorang terhadap apa yang bisa terjadi di masa yang akan datang.

3.    Kekerasan Seksual Terhadap Anak
a.    Definisi Kekerasan seksual terhadap anak
Definisi dari kekerasan seksual pada anak adalah pemaksaan, ancaman atau memperdaya seorang anak untuk melakukan aktivitas seksual yang meliputi : melihat, meraba, penetrasi (menekan), pencabulan dan pemerkosaan (Paramastri, Supriyadi dan Priyanto (2010).
Selain definisi tersebut, ditemukan pendapat dari Maslihah (2006) yang menyatakan bahwa kekerasan seksual ialah keterlibatan aktivitas seksual seorang anak sebelum mencapai batasan umur tertentu yang ditetapkan oleh hukum negara dengan orang dewasa atau anak lain yang usianya lebih tua atau orang yang dianggap memiliki pengetahuan lebih untuk memanfaatkannya demi kesenangan seksual atau aktivitas seksual.
Berdasarkan kedua pendapat di atas, maka disimpulkan bahwa kekerasan seksual merupakan aktivitas seksual yang dilakukan oleh anak di bawah usia delapan belas tahun termasuk anak dalam kandungan yang ditentukan oleh hukum negara (UU Perlindungan anak No. 22 tahun 2003), dilakukan oleh orang yang lebih dewasa atau memiliki pengetahuan lebih dan memanfaatkan anak dengan memperdaya, memaksa dan mengancam.

b.    Dampak kekerasan seksual
Kekerasan seksual menimbulkan dampak fisik yaitu adanya perlukaan pada fisik, dampak sosial yang diterima mendapat kecaman dari lingkungan, menarik diri,  sedangkan dampak psikologis terjadi trauma, takut, malu, upaya bunuh diri, paska-trauma stres disorder, imsonia, mimpi buruk, depresi (Paramastri, Supriyadi dan Priyanto (2010), kecenderungan reviktimisasi di usia dewasa (Weber dan Smith, 2011).
Penelitian relevan yang pernah dilakukan sebelumnya antara lain :
A.     Penelitian yang relevan
Penelitian yang dilakukan Solanki, Gokhale dan Agarwal (2014) mengenai efektivitas terapi berbasis bermain terhadap perilaku bermain pada anak dengan down syndrome menunjukkan peningkatan kemampuan okupasi yang signifikan.
Sedangkan melalui penelitian yang dilakukan oleh Turns dan Kimmes (2014) yang melakukan penelitian mengenai efektivitas bermain dalam mengembangkan kemampuan interaksi sosial sesuai dengan tahap psikososial Erikson. Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Esmaeilzadeh dkk (2014) yang melakukan penelitian mengenai efektivitas permainan linguistik untuk meningkatkan keterampilan tata bahasa pada anak bergangguan pendengaran dengan alat bantu dengar.
Efektivitas bermain sebagai upaya terapi pada anak usia dini juga ditunjukkan dalam penelitian (Dilman Taylor dan Bratton, 2014) yang meneliti tentang penggunaan Alderian Play Therapy (AdPT) dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan anak usia dini. Penelitian yang dilakukan oleh Iram (2009) yang menunjukkan pentingnya bermain dalam mempertahankan proses berbagi pemikiran pada anak usia dini sesuai lajur tingkat perkembangan.
Selain penelitian di atas, penelitian yang dilakukan oleh Paramastri, Supriyadi dan Priyanto (2010) tentang pencegahan awal pelecehan seksual pada anak melalui terapi bermain. Hasil penelitian diperoleh bahwa program prevensi dini  terhadap kekerasan seksual terhadap anak sangat dibutuhkan dan pendidikan seks sejak dini agar diberikan.
 Penelitian – penelitian ini menunjukkan adanya relevansi dengan penelitian yang penulis ajukan yaitu prevensi dini terhadap kekerasan seksual pada anak sangat dibutuhkan dan bermain secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan okupasi yang dimiliki anak.
Budaya di Jawa yang membentuk warganya untuk senantiasa bersikap ramah, menghormati orang tua atau orang yang dituakan. Sikap hormat yang ditunjukkan melalui kepatuhan terhadap orang dewasa atau yang dituakan, ternyata memberikan dampak lain yang negatif terhadap anak-anak. Anak-anak yang disebabkan karena kepolosannya, ketidakberdayaannya, ketergantungannya terhadap orang di sekitarnya, membuat seorang anak cenderung mempercayai orang di sekitarnya secara mutlak. Dengan ditunjang pula oleh kurangnya pengalaman, kurangnya pengetahuan mengenai bahaya - bahaya yang dapat mengancam keselamatan dirinya dan belum memahami situasi yang dapat mengarahkannya ke dalam kondisi yang sangat rentan sebagai korban kekerasan seksual (Grey, 2011).
Kerentanan anak terhadap kekerasan seksual ini karena kemampuan waspada (Calitz,  dan Flateau, 1992) dan berespon secara tepat terhadap isyarat-isyarat informasi penting yang ada di sekitarnya (Dalrymple dan Schiflett, 1997) atau disebut sebagai situation awareness (SA) belum berkembang sehingga anak belum mampu melindungi dirinya dari kemungkinan terjadinya kekerasan seksual pada dirinya. Prevensi dini dan mengedukasi anak dalam memproteksi dirinya (Paramastri, Supriyadi dan Priyanto, 2010),   mengembangkan image positif dalam mengantisipasi kekerasan seksual pada anak (Morawska dkk, 2015) melalui dunia yang alami bagi mereka yaitu bermain (Eberle, 2014; Homeyer dan Morrison, 1988). Prevensi dini dan edukasi untuk mengantisipasi situasi yang dapat menyebabkan terjadinya kekerasan seksual dapat diberikan dalam kemasan yang menyenangkan, memberikan kesempatan bagi anak lebih komunikatif dan eksploratif, melepaskan ketegangan dan yang terpenting model bermain disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak yaitu melalui bermain.
Untuk itu perlu adanya upaya pengembangan model bermain dalam meningkatkan situation awareness (SA) dalam mengantisipasi kekerasan seksual terhadap anak di Jawa Tengah.
Daftar Pustaka
Borg, W. R., & Gall, M. D. (1989). Educational Research-An Introduction, 5th Edition, New York: Longman Inc.

BP3AKB, 2015. Data Korban Kekerasan Perempuan dan Anak. http://bp3akb.jatengprov.go.id

Calitz, K. 2014. The Liability Of Churches For The Historical Sexual Assault Of Children By Priests. Potchefstroom Electronic Law Journal. Vol. 17 Issue 6, preceding p2452-2486. 36p. DOI: 10.4314/pelj.v17i6.06.

Chalidah, Ellah Siti. 2005. Terapi Permainan Bagi Anak yang Memerlukan Layanan Pendidikan Khusus. Jakarta: Depdikbud.

Dalrymple, M. A., and Schiflett. S. G. 1997. Measuring situational awareness of AWACS weapons directors. Situational Awareness in the Tactical Air Environment: Augmented Proceedings of the Naval Air Warfare Center’s First Annual Symposium, CSERIAC SOAR Report# 97-01, WP-AFB: Ohio.

Dilman Taylor, Dalena., Bratton, Sue C., 2014. Developmental Appropriate Practice: Adlerian Play Therapy with Preschool Children.  Journal of Individual Psychology. Vol. 70 Issue 3, p205-219. 15p.

Eberle, Scott G. 2014. The Elements of Play. American Journal of Play. Volume 6, No. 2.

Emerson, T. J., Reising, J. M., and Britten-Austin, H. G. 1987. Workload and situation awareness in future aircraft. SAE Technical Paper (No. 871803). Warrendale, PA: Society of Automotive Engineers.

Endsley, M. R. 1995. Toward a theory of situation awareness in dynamic systems. Human Factors, 37(1), 32-64.

Endsley, M. R. 2001. Designing for Situation Awareness In Complex Systems. Proceedings of the Second International Workshop On Symbiosis Of Humans, Artifacts And Environment, Kyoto, Japan.

Esmaeilzadeh, Sahar Mohammad.; Sharifi, Shahla.; Nekah, Seyyed Mohsen Asghari.; Niknezhad, Hamid Tayarani. 2014. The effectiveness of linguistic plays on the grammatical skills of hearing-impaired children with hearing aids. Audiology. Vol. 23 Issue 5, p52-59. 8p.
Finkelhor, David. 2009.  The Prevention of Childhood Sexual Abuse. Future of Children Journal. Vol. 19 no. 2.

Gray, Peter. 2011. The Special Value of Children’s Age-Mixed Play. American Journal of Play, volume 3, number 4.

Guterman, N. 2001. Stopping Child Maltreatment Before It Starts. Thousand Oaks, CA: Sage.

Haines, R. F., Flateau, C. 1992. Night Flying. Blue Ridge Summit, PA: TAB Books.

Hartman, B. O., and Secrist, G. E. (1991). Situational awareness is more than exceptional vision. Aviation,Space, and Environmental Medicine. 62. 1084-1089.

Harwood, K., Barnett, B., and Wickens, C.. 1988. Situational Awareness: A Conceptual Andmethodological Framework. In Proceedings of the Psychology in the Department of Defense Eleventh Symposium (Tech. Report No. USAFA-TR-88-1, pp. 316-320). Colorado Springs, CO: US Air Force Academy (AD-A198723).

Hobbs, G., & Hobbs, C. (1999). Abuse of children in foster and residential care. Pergamon. Vol. 23, h.1239–1252.

Homeyers, Linda E., Morrison, Mary O. 2008. Play Therapy. Practice, Issues, and Trends. American Journal of Play. Board of Trustees of the University of Illinois.

Iram, Siraj-Blatchford. 2009. Conceptualising progression in the pedagogy of play and sustained shared thinking in early childhood education: A Vygotskian perspective. Educational & Child Psychology. Vol. 26 Issue 2, p77-89.

Jongsma, Arthur E., Peterson,L Mark.,  Mclnnis, Willian P. 2000.  The Child Psychotherapy Treatment Plannaer. Toronto : John Willey & Sons, Inc.

Kaber, David B., Endsley Mica R. 1998. Team Situation Awareness for Process Control Safety and Performance. Process Safety Progress. Vol. 17. No. 1.

Leedy, Paul D.1985. Practikel Research. Planning and Design. 3rd  edition. New York : Macmillan Publishing Company.

Maslihah, Sri.  2006. Kekerasan Terhadap Anak: Model Transisional dan Dampak Jangka Panjang. Edukid : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini.I Vol.1. 25-33.

Moleong, Lexy. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosda.

Morawska, Alina. Walsh, Anthony. Grabski, Melanie. Fletcher, Renee. 2015. Parental confidence and preferences for communicating with their child about sexuality. Sex Education Journal. Vol. 15 Issue 3, p235-248. 14p

Overgard, K. I., Sorensen, Linda J., Martinsen, Tone J., Nazir, Salman. 2014. Characteristics of Dynamic Positioning Operators' Situation Awareness and Decision Making during Critical Incidents in Maritime Operations. Proceedings of the 5th International Conference on Applied Human Factors and Ergonomics AHFE 2014, Kraków, Poland 19-23 July 2014. Edited by T. Ahram, W. Karwowski and T. Marek.

Paramastri, Ira., Supriyadi., Priyanto, Muchammad A. 2010. Early Prevention Toward Sexual Abuse on Children.  Jurnal Psikologi Volume 37, No. 1, Juni 2010: 1 – 12.

Putra, Nusa. 2013. Research & Development. Penelitian dan Pengembangan : Suatu Pengantar. Jakarta : Rajagrafindo Persada.

van Winsen, R., Henriqson, E., Schuler, B., & Dekker, S. W. 2015. Situation awareness: some conditions of possibility. Theoretical Issues In Ergonomics Science, 16(1), 53-68.

Raman, Vijaya dan Singhal, Meghna. 2015. Play therapy with children: Its relevance and utility in the Indian context. Journal Indian Assoc. Child Adolesce. Mental Health Vol. 11(2):121-157.

Sarter, N. B., Woods, D. D. 1991. Situation Awareness: A critical but ill-defined phenomenon. International Journal of Aviation Psychology. 1. 45-57.

Solanki, Punita V., Gokhale, Preetee dan Agarwal, Priyanka. 2014. To study the effectiveness of play based therapy on play behaviour of children with Down’s Syndrome. Indian Journal of Occupational Therapy. Vol. 46 Issue 2, p41-48.

Sudjana. 1992. Metode Statistika. Edisi kelima. Bandung : Tarsito.

Sugiyono. 2004. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : CV. Alfabeta.

Terry, Karen J., Freilich, Joshua D. 2012. Understanding Child Sexual Abuse by Catholic Priests from a Situational Perspective. Journal of Child Sexual Abuse. Vol. 21:437– 455.

Turns,  Brie.,  Kimmes, Jonathan. 2014. 'I'm NOT the Problem!' Externalizing Children's 'Problems' Using Play Therapy and Developmental Considerations. Contemporary Family Therapy: An International Journal. Mar 2014, Vol. 36 Issue 1, p135-147.

Weber, Mark Reese., Smith, Dana M. 2010. Outcomes of Child Sexual Abuse as Predictors of laters Sexual Victimization. Journal of International Violence. 26 (9): 1899-1905.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar